Halaman 2
Sejarah
Bermula dari pendampingan warga di tingkat RT, berkembang menjadi jaringan bank sampah, dan kini disiapkan menjadi badan hukum dengan sistem digital sendiri.
Awal mula
Tambah Tumbuh lahir dari satu pengamatan sederhana di lapangan: sampah yang dipilah warga sering berakhir bercampur lagi karena tidak ada yang menjemputnya secara rutin, dan bank sampah yang diresmikan dengan meriah berhenti bertransaksi beberapa bulan kemudian. Sejak [tahun mulai kegiatan], [nama penggagas] bersama sekelompok pendamping masyarakat di Surakarta mulai bekerja pada titik yang paling sering ditinggalkan orang: mata rantai terakhir antara rumah tangga dan industri.
Dari pendampingan ke jaringan
Selama lebih dari sepuluh tahun, kegiatan berkembang dari pelatihan pemilahan di lingkungan RT menjadi pembentukan dan pembinaan ratusan Bank Sampah Unit di tingkat rukun warga dan kelurahan. Bersamaan dengan itu tumbuh tiga jaringan yang hari ini menjadi kekuatan utama Yayasan: jaringan masyarakat, jaringan pemerintah daerah, dan jaringan industri pembeli material.
Pengalaman itu juga memberi pelajaran mahal. Bank sampah tidak gagal karena warganya malas, melainkan karena penjemputan tidak pasti, pembayaran terlambat, dan pencatatan manual terlalu membebani pengurus unit. Tiga hal itulah yang kemudian dirancang ulang.
Formalisasi dan Sirkula
Pada [bulan, tahun] disusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan Tambah Tumbuh Indonesia, mengacu pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan. Pada saat yang sama dirancang Sirkula, platform digital yang mencatat transaksi dari setoran warga sampai penjualan ke industri, lengkap dengan bukti foto dan jejak audit.
Sirkula bukan tambahan di ujung program. Ia adalah alasan operasional ini bisa dibiayai dan dampaknya bisa dibuktikan.